Bagikan:

YOGYAKARTA – Seseorang mungkin berprestasi dan memiliki karir cemerlang. Bahkan ada yang memiliki keterampilan sosial sehingga bisa dengan lancar menavigasi situasi sosial dan piawai menanganinya. Tetapi, seseorang yang punya rekam jejak positif seperti itu, tak menjamin sehat secara mental. Menurut penulis dan peneliti Alice Boyes, Ph.D., berikut kenapa orang yang kuat mental belum tentu sehat secara mental.

1. Kekuatan mental bisa menutupi kesehatan mental yang buruk

Seseorang mungkin tampak tangguh saat sedang berjuang sehingga lebih sulit mengenali saat mereka membutuhkan bantuan. Faktanya, ada jeda sangat lama antara saat orang pertama kali mengalami gejala kesehatan mental dan mencari cara untuk mengatasinya atau terapi. Jeda ini seringnya menahun, bukan hari atau minggu.

Orang yang kuat secara mental, mungkin berpura-bura baik-baik saja. Beberapa orang mengembangkan ketahanan ekstrem sehingga menggunakannya dalam bentuk kontrol atau strategi bertahan hidup. Inilah yang menutupi masalah lebih dalam, yaitu tentang kesehatan mental yang buruk.

kuat mental tak menjamin kesehatan mental yang lebih baik
Ilustrasi kuat mental tak menjamin kesehatan mental yang lebih baik (Freepik)

2. Kekuatan mental dihargai secara sosial, kesehatan mental sering gak kelihatan

Seseorang yang tangguh dan memiliki ketahanan, sering kali dipuji masyarakat yang mungkin abai terhadap perjuangan kesehatan mental. Belum lagi pejuang kesehatan mental distigmatisasi. Rekan Anda mungkin tak tahu ketika Anda bangun jam 3 pagi dan berpikir tentang promosi yang baru saja diperoleh teman kulitah.

3. Kekuatan mental menciptakan rasa tak terkalahkan yang palsu

Orang yang kuat mental mungkin meremehkan kerentanan mereka terhadap masalah kesehatan mental. Kesalahan ini menyebabkan seseorang memaksakan diri melampaui batas yang sehat.

4. Kesehatan mental merespons faktor eksternal lebih dari kekuatan mental

Kekuatan mental dibangun secara bertahap. Tetapi peristiwa negatif dalam hidup dapat dengan cepat memperburuk kesehatan mental. Jelas Boyes dilansir Psychology Today, Senin, 31 Maret, penolakan, kehilangan, hingga menipisnya kepercayaan sosial bisa merusak kesehatan mental selama berbulan-bulan meskipun Anda orang dewasa yang sangat kompeten dalam identitas tertentu, misalnya karir.

5. Pola perkembangan kekuatan dan kesehatan mental berbeda

Kekuatan mental adalah sesuatu yang diperoleh dari waktu ke waktu melalui tantangan dan pengalaman serta perkembangan pola pikir. Penurunan kesehatan mental, sering kali mengikuti pola episodic. Seperti stres, situasi yang dialami, dan lingkaran internal. Inilah yang menyebabkan seseorang dapat menjadi tangguh secara mental tetapi masih mengalami periode kesulitan dalam menjaga kesehatan mental.

Melalui penjelasan di atas, harusnya kesehatan mental tidak meragukan kekuatan mental. Sebaliknya juga, kekuatan mental harusnya tidak mengabaikan kesehatan mental.