JAKARTA - Istana Kepresiden Rusia, Kremlin, mengatakan sejumlah perusahaan Amerika Serikat menunjukkan minat dalam proyek logam tanah jarang bersama di Rusia.
Tapi Rusia memperingatkan diskusi semacam itu masih dalam tahap awal.
Mencapai kesepakatan potensial tentang ekstraksi mineral dengan Kyiv telah muncul sebagai elemen penting dalam upaya Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang di Ukraina, dan Moskow menjelaskan pihaknya juga terbuka untuk kesepakatan.
Presiden Rusia Putin pada Februari mengisyaratkan AS mungkin tertarik dalam eksplorasi bersama untuk endapan logam tanah jarang di Rusia, yang memiliki cadangan logam terbesar kelima di dunia yang digunakan dalam laser dan perangkat keras militer.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Moskow belum menandatangani dokumen apa pun dengan perusahaan-perusahaan Amerika karena pembatasan terkait sanksi terhadap perusahaan-perusahaan AS di Rusia.
“Beberapa dari mereka menunjukkan minat,” katanya dilansir Reuters, Senin, 31 Maret.
"Belum ada hal spesifik di sini, tetapi minatnya jelas. Ketertarikan itu saling menguntungkan, karena kita berbicara tentang proyek-proyek yang saling menguntungkan", kata Peskov kepada wartawan.
Utusan investasi Putin, Kirill Dmitriev, mengatakan kepada surat kabar Izvestia dalam komentar yang dipublikasikan pada Senin, pembicaraan dengan perusahaan-perusahaan Amerika telah dimulai. Ia tidak menyebutkan nama perusahaan mana pun atau memberikan rincian lebih lanjut.
BACA JUGA:
Tanah jarang adalah sekelompok 17 logam yang digunakan untuk membuat magnet yang mengubah daya menjadi gerakan untuk kendaraan listrik, telepon seluler, sistem rudal, dan elektronik lainnya. Tidak ada pengganti yang diketahui.
Survei Geologi AS memperkirakan cadangan logam tanah jarang Rusia sebesar 3,8 juta metrik ton tetapi Moskow memiliki perkiraan yang jauh lebih tinggi.
Izvestia melaporkan kerja sama tersebut dapat dibahas lebih lanjut pada putaran pembicaraan Rusia-AS berikutnya yang mungkin berlangsung pada pertengahan April di Arab Saudi.